Assalamu’alaikum...
Berbicara
tentang CEO, berarti bicara mengenai ‘Tanggung Jawab’. Bukan hanya sebatas
tanggung jawab terhadap Perusahaan, Keluarga (Sumber Daya Manusia) perusahaan,
atau para investor saja, tetapi juga tanggung jawab terhadap Bangsa ini, dan
Tuhan !
Ya,
memang seserius ini arti sebuah kedudukan CEO. Maka dari itu, harus sangat
serius pula dalam mengemban ‘misinya’. Sebagai seorang CEO Bakrie Grup, saat
ini saya ingin memaparkan misi-misi saya ke depan.
Masih
hangat di benak kita, mengenai keinginan Prof. Widjajono Partowidagdo (alm),
agar bangsa ini mulai berlatih untuk beralih dari energi minyak ke energi
alternatif lain. Keinginan ini menjadi sebuah sinyal yang sangat kuat,
mengingat beliau adalah salah satu pakar minyak yang sangat bijak di negeri
ini. Sinyal untuk benar-benar mulai memikirkan dan menggunakan energi
alternatif lain, selain minyak.
Berangkat
dari keinginan itu, saya mulai berpikir untuk ‘menggarap’ sebuah unit usaha
baru, Otomotif. Lebih tepatnya, membangun perusahan otomotif yang ramah
lingkungan, seperti misalnya mobil listrik.
“ Hey tunggu
dulu, kenapa mobil listrik ? Apakah ini akan menjanjikan ? “
Hmm, sudah saya jelaskan di atas,
bahwa saat ini adalah saat yang paling tepat untuk mulai beralih menggunakan
energi selain minyak, karena persediaan minyak bumi semakin lama semakin menipis.
Dan listrik, mungkin akan menjadi salah satu energi alternatif yang paling
menjanjikan. Lagi pula, perusahaan-perusahaan otomotif raksasa pun juga sudah
melirik mobil listrik, sebut saja Nissan, Ford, dll. Mereka juga pasti punya
alasan yang kuat untuk itu.
“ Tapi kan
belum ada contoh yang berhasil dalam bisnis ini ? ”
Hehe,
jangan bercanda seperti itu. Justru karena belum ada yang ‘berani’ membuat
produksi mobil listrik inilah, perusahaan saya akan menjadi yang pertama di
Asia, atau bahkan mungkin di dunia, yang sukses pertama kali meluncurkan produk
mobil listrik. Apalagi, dalam teori marketing kita mengenal bahwa, “siapa yang pertama akan menjadi
pemimpin di hati konsumen, dan yang berikutnya hanya akan menjadi pengikut /
penjiplak”. Ini jelas menjadi salah satu keuntungan kita sebagai Perusahaan
pertama yang memproduksi mobil listrik.
“ Masalah
Brand ? Apakah tidak takut dengan brand lain yang sudah terkenal ? ”
Hey,
siapa yang tidak kenal dengan Bakrie Group ? hehe... Perusahaan saya sudah
berusia 70 tahun, sudah membuktikan diri sebagai perusahaan yang kuat. Ini merupakan
keuntungan berikutnya yang akan semakin memperlancar bisnis mobil listrik
nantinya. Dengan brand yang sudah sangat melekat kuat dengan citra yang baik,
insya Allah ini akan menjadi senjata yang ampuh untuk masuk bersaing di
industri otomotif dalam negeri.
Dengan dua
keunggulan di atas, semakin mantap rasanya untuk menggarap industri baru ini. Apalagi,
beberapa bulan yang lalu Bangsa ini sempat ramai dengan kegembiraan rakyat
Indonesia menyambut ‘calon Mobil Nasional’ yang dirancang oleh saudara-saudara
kita dari SMK. Hal ini tentu juga menjadi sinyal bahwa masyarakat Indonesia
sangat mencintai produk Indonesia, bahkan sangat ‘menanti’. Dan saya sebagai
CEO perusahaan raksasa nusantara ini, sudah tidak sabar untuk menyambut
penantian itu, dengan segera meluncurkan mobil listrik karya anak bangsa.
Apabila
unit usaha ini sudah benar-benar diluncurkan, maka akan ada sebuah unit usaha
baru yang saling bersinergi, Stasiun Pengisian Energi Listrik (SPEL), semacam
SPBU yang sudah ada sekarang ini. Usaha ini juga akan sangat menguntungkan
nantinya.
Tapi,
hari ini dengan sangat prihatin, saya juga ingin memaparkan isu-isu negatif
yang ‘berseliweran’ di Bakrie Group. Yang pertama mengenai isu ancaman gagal
bayar, yang menyebabkan anjloknya saham beberapa anak usaha, seperti PT Energi
Mega Persada Tbk (ENGR) dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Hal ini jelas
merupakan pukulan yang dahsyat dari ‘sekedar isu’. Tapi di sini saya tegaskan,
bahwa hal tersebut sudah berhasil diatasi dan sudah diselesaikan dengan sangat baik oleh pemimpin perusahaan masing-masing.
Yang kedua,
yang ingin saya bahas lebih dalam di sini, tentang ancaman yang ‘mungkin’ akan
datang dari unit usaha Bakrie Telecom. Mungkin ini akan menjadi masalah yang
besar apabila dikesampingkan, karena kita sudah terlanjur terjun di pasar yang
sempit, namun banyak pemain. Ya, jaringan telekomunikasi berbasis CDMA,
seberapa besar pasarnya ? tapi seberapa banyak pemainnya ? saya rasa jawaban
kita semua sama, pasar kecil namun banyak pemain.
Sebagai
pebisnis, kita tentu sepakat dengan ungkapan ini, ‘lebih baik rugi 4 poin
daripada rugi 6 poin, dan lebih baik rugi 6 poin daripada rugi 8 poin’. Apakah ini
berarti saya harus melepas Bakrie Telecom untuk menghindari kerugian besar yang
‘mungkin’ akan muncul nantinya ? Tidak, bukan seperti itu maksud saya. Saya hanya
akan memberikan pilihan terhadap saya sendiri dan para pemimpin Bakrie Telecom,
‘karena banyaknya pemain, apakah Anda ingin diakuisisi, atau malah
mengakuisisi?’. Dan saya berharap semua setuju untuk menjawab mengakuisisi. Di pasar
ini, banyak pemain yang sudah ‘mendrip’ (redup) yang mungkin bisa untuk
diberikan tawaran akuisisi. Hal ini akan memberikan 2 keuntungan, berkurangnya
pesaing dan bertambahnya pelanggan (dari perusahaan yang diakuisisi tersebut).
Di atas,
adalah dari segi korporasi, sedangkan dari segi peningkatan produk, saya akan
memfokuskan pada layanan multimedia, di sini saya memiliki ‘Aha Mobile’ sebagai
senjatanya. Selain sudah memiliki jaringan EVDO, Aha juga sudah memiliki
pelanggan yang lumayan banyak. Tapi tidak cukup sampai di situ, karena para
pesaing sedang mengincar kita. Mungkin saya juga akan lebih memperkuat
kerjasama dengan beberapa produsen ponsel terkemuka, untuk melakukan bundling
produk dengan mereka. Hal ini mungkin akan menjawab sedikit tantangan dari
kemajuan teknologi smartphone dan mobile access.
Selain itu, saya juga akan
membuat sebuah media (atau bisa dikatakan sosial media) yang terintegrasi
dengan Bakrie Telecom. Misalnya seperti Bakrie Telecom Mesenger, yang hanya
bisa dinikmati oleh pelanggan BTEL saja. Namun memiliki nilai lebih daripada
sosial media lainnya, seperti Facebook. Intinya, jangan pernah biarkan pelanggan
untuk melirik pemain lain, kita harus bisa memfasilitasi apapun keinginan
pelanggan dalam hal multimedia.
Akhirnya,
telah saya jelaskan beberapa keuntungan, kekurangan, peluang, bahkan ancaman
yang dihadapi Bakrie Group. Semoga sebagai CEO, saya dapat menyikapi semua itu
dengan bijak, dengan mengedepankan kepentingan Bangsa ini, tidak ada artinya
kejayaan Bakrie Group (sebuah Perusahaan Nusantara) tanpa dibarengi kejayaan
Bangsa Indonesia. Selamat ulang tahun Group Bakrie yang ke-70, semoga semakin
berjaya dan bermanfaat bagi Bangsa dan Negara. Aamiin...
CEO Untuk Negeri
Tulisan
Assalamu’alaikum...
Berbicara
tentang CEO, berarti bicara mengenai ‘Tanggung Jawab’. Bukan hanya sebatas
tanggung jawab terhadap Perusahaan, Keluarga (Sumber Daya Manusia) perusahaan,
atau para investor saja, tetapi juga tanggung jawab terhadap Bangsa ini, dan
Tuhan !
Ya,
memang seserius ini arti sebuah kedudukan CEO. Maka dari itu, harus sangat
serius pula dalam mengemban ‘misinya’. Sebagai seorang CEO Bakrie Grup, saat
ini saya ingin memaparkan misi-misi saya ke depan.
Masih
hangat di benak kita, mengenai keinginan Prof. Widjajono Partowidagdo (alm),
agar bangsa ini mulai berlatih untuk beralih dari energi minyak ke energi
alternatif lain. Keinginan ini menjadi sebuah sinyal yang sangat kuat,
mengingat beliau adalah salah satu pakar minyak yang sangat bijak di negeri
ini. Sinyal untuk benar-benar mulai memikirkan dan menggunakan energi
alternatif lain, selain minyak.
Berangkat
dari keinginan itu, saya mulai berpikir untuk ‘menggarap’ sebuah unit usaha
baru, Otomotif. Lebih tepatnya, membangun perusahan otomotif yang ramah
lingkungan, seperti misalnya mobil listrik.
“ Hey tunggu
dulu, kenapa mobil listrik ? Apakah ini akan menjanjikan ? “
Hmm, sudah saya jelaskan di atas,
bahwa saat ini adalah saat yang paling tepat untuk mulai beralih menggunakan
energi selain minyak, karena persediaan minyak bumi semakin lama semakin menipis.
Dan listrik, mungkin akan menjadi salah satu energi alternatif yang paling
menjanjikan. Lagi pula, perusahaan-perusahaan otomotif raksasa pun juga sudah
melirik mobil listrik, sebut saja Nissan, Ford, dll. Mereka juga pasti punya
alasan yang kuat untuk itu.
“ Tapi kan
belum ada contoh yang berhasil dalam bisnis ini ? ”
Hehe,
jangan bercanda seperti itu. Justru karena belum ada yang ‘berani’ membuat
produksi mobil listrik inilah, perusahaan saya akan menjadi yang pertama di
Asia, atau bahkan mungkin di dunia, yang sukses pertama kali meluncurkan produk
mobil listrik. Apalagi, dalam teori marketing kita mengenal bahwa, “siapa yang pertama akan menjadi
pemimpin di hati konsumen, dan yang berikutnya hanya akan menjadi pengikut /
penjiplak”. Ini jelas menjadi salah satu keuntungan kita sebagai Perusahaan
pertama yang memproduksi mobil listrik.
“ Masalah
Brand ? Apakah tidak takut dengan brand lain yang sudah terkenal ? ”
Hey,
siapa yang tidak kenal dengan Bakrie Group ? hehe... Perusahaan saya sudah
berusia 70 tahun, sudah membuktikan diri sebagai perusahaan yang kuat. Ini merupakan
keuntungan berikutnya yang akan semakin memperlancar bisnis mobil listrik
nantinya. Dengan brand yang sudah sangat melekat kuat dengan citra yang baik,
insya Allah ini akan menjadi senjata yang ampuh untuk masuk bersaing di
industri otomotif dalam negeri.
Dengan dua
keunggulan di atas, semakin mantap rasanya untuk menggarap industri baru ini. Apalagi,
beberapa bulan yang lalu Bangsa ini sempat ramai dengan kegembiraan rakyat
Indonesia menyambut ‘calon Mobil Nasional’ yang dirancang oleh saudara-saudara
kita dari SMK. Hal ini tentu juga menjadi sinyal bahwa masyarakat Indonesia
sangat mencintai produk Indonesia, bahkan sangat ‘menanti’. Dan saya sebagai
CEO perusahaan raksasa nusantara ini, sudah tidak sabar untuk menyambut
penantian itu, dengan segera meluncurkan mobil listrik karya anak bangsa.
Apabila
unit usaha ini sudah benar-benar diluncurkan, maka akan ada sebuah unit usaha
baru yang saling bersinergi, Stasiun Pengisian Energi Listrik (SPEL), semacam
SPBU yang sudah ada sekarang ini. Usaha ini juga akan sangat menguntungkan
nantinya.
Tapi,
hari ini dengan sangat prihatin, saya juga ingin memaparkan isu-isu negatif
yang ‘berseliweran’ di Bakrie Group. Yang pertama mengenai isu ancaman gagal
bayar, yang menyebabkan anjloknya saham beberapa anak usaha, seperti PT Energi
Mega Persada Tbk (ENGR) dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Hal ini jelas
merupakan pukulan yang dahsyat dari ‘sekedar isu’. Tapi di sini saya tegaskan,
bahwa hal tersebut sudah berhasil diatasi dan sudah diselesaikan dengan sangat baik oleh pemimpin perusahaan masing-masing.
Yang kedua,
yang ingin saya bahas lebih dalam di sini, tentang ancaman yang ‘mungkin’ akan
datang dari unit usaha Bakrie Telecom. Mungkin ini akan menjadi masalah yang
besar apabila dikesampingkan, karena kita sudah terlanjur terjun di pasar yang
sempit, namun banyak pemain. Ya, jaringan telekomunikasi berbasis CDMA,
seberapa besar pasarnya ? tapi seberapa banyak pemainnya ? saya rasa jawaban
kita semua sama, pasar kecil namun banyak pemain.
Sebagai
pebisnis, kita tentu sepakat dengan ungkapan ini, ‘lebih baik rugi 4 poin
daripada rugi 6 poin, dan lebih baik rugi 6 poin daripada rugi 8 poin’. Apakah ini
berarti saya harus melepas Bakrie Telecom untuk menghindari kerugian besar yang
‘mungkin’ akan muncul nantinya ? Tidak, bukan seperti itu maksud saya. Saya hanya
akan memberikan pilihan terhadap saya sendiri dan para pemimpin Bakrie Telecom,
‘karena banyaknya pemain, apakah Anda ingin diakuisisi, atau malah
mengakuisisi?’. Dan saya berharap semua setuju untuk menjawab mengakuisisi. Di pasar
ini, banyak pemain yang sudah ‘mendrip’ (redup) yang mungkin bisa untuk
diberikan tawaran akuisisi. Hal ini akan memberikan 2 keuntungan, berkurangnya
pesaing dan bertambahnya pelanggan (dari perusahaan yang diakuisisi tersebut).
Di atas,
adalah dari segi korporasi, sedangkan dari segi peningkatan produk, saya akan
memfokuskan pada layanan multimedia, di sini saya memiliki ‘Aha Mobile’ sebagai
senjatanya. Selain sudah memiliki jaringan EVDO, Aha juga sudah memiliki
pelanggan yang lumayan banyak. Tapi tidak cukup sampai di situ, karena para
pesaing sedang mengincar kita. Mungkin saya juga akan lebih memperkuat
kerjasama dengan beberapa produsen ponsel terkemuka, untuk melakukan bundling
produk dengan mereka. Hal ini mungkin akan menjawab sedikit tantangan dari
kemajuan teknologi smartphone dan mobile access.
Selain itu, saya juga akan
membuat sebuah media (atau bisa dikatakan sosial media) yang terintegrasi
dengan Bakrie Telecom. Misalnya seperti Bakrie Telecom Mesenger, yang hanya
bisa dinikmati oleh pelanggan BTEL saja. Namun memiliki nilai lebih daripada
sosial media lainnya, seperti Facebook. Intinya, jangan pernah biarkan pelanggan
untuk melirik pemain lain, kita harus bisa memfasilitasi apapun keinginan
pelanggan dalam hal multimedia.
Akhirnya,
telah saya jelaskan beberapa keuntungan, kekurangan, peluang, bahkan ancaman
yang dihadapi Bakrie Group. Semoga sebagai CEO, saya dapat menyikapi semua itu
dengan bijak, dengan mengedepankan kepentingan Bangsa ini, tidak ada artinya
kejayaan Bakrie Group (sebuah Perusahaan Nusantara) tanpa dibarengi kejayaan
Bangsa Indonesia. Selamat ulang tahun Group Bakrie yang ke-70, semoga semakin
berjaya dan bermanfaat bagi Bangsa dan Negara. Aamiin...
Innalillahi wa inna ilaihi rojiun...
Ditengah-tengah ramainya Pro-Kontra masalah rencana
kenaikkan harga BBM, perhatian saya langsung tertuju pada salah satu petinggi
negeri ini, Widjajono Partowidagdo, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya
Mineral. Sosok yang ‘nyentrik’ dengan penampilan rambut gondrongnya yang khas
ini, tampil dengan ide-ide yang brilliant, meskipun tidak populer.
Dalam berbagai kesempatan, beliau dengan penuh kesabaran dan
pengertian, menjelaskan pentingnya harga BBM untuk naik, dan tidak
bosan-bosannya untuk mengajak semua masyarakat menghemat energi. Beliau juga
rajin memberikan masukkan-masukkan untuk solusi yang cerdas dan sangat
rasional. Dan semua yang beliau lakukan itu, jauh dari kepentingan politik
belaka, hal ini jelas terlihat ketika banyak masyarakat yang mencerca
ide-idenya itu, namun beliau tetap pada pendiriannya.
Mantan Guru Besar ITB yang lahir di Magelang, pada 16
September 1951 ini, juga mempunyai hobi yang keren, Mendaki Gunung. Sudah
banyak gunung-gunung tinggi di nusantara dan luar negeri yang sudah
ditaklukkannya. Hobi ini sangat melekat erat di jiwa beliau, hingga usia yang
sudah 60 tahun pun, tidak bisa menghalanginya untuk melakukan pendakian.
Terakhir, beliau melakukan pendakian di gunung Tambora, Nusa
Tenggara Barat. Saat melakukan pendakian di gunung itulah, beliau mengalami
sakit yang akhirnya mengantar beliau menghembuskan nafas terakhir.
Melihat hal ini, saya jadi teringat dengan Soe Hok Gie,
aktifis yang juga hobi mendaki, mereka sama-sama idealis dan punya kemauan
untuk memperjuangkan kebaikan bangsa, dan jauh dari kepentingan politik belaka.
Saya juga teringat kata-kata Hiroshima, mantan fotografer asal Jepang yang suka
bergaul dengan alam, kurang lebih seperti ini perkataannya: “Mati dikelilingi
alam, apalagi yang lebih baik?”
Kini, salah satu Putra terbaik bangsa, telah berpulang ke
pangkuan Sang Pemilik, Allah SWT. Semoga semua amal ibadahnya diterima oleh
Allah SWT, dan diampuni segala kesalahannya. Aamiin...
**)Tulisan ini saya dedikasikan untuk mengenang semangat dan
idealisme salah satu Tokoh kebanggan saya, Widjajono Partowidagdo, Phd.
Arif Firman Syah
Selamat Jalan, Guru Besar
Tulisan
Innalillahi wa inna ilaihi rojiun...
Ditengah-tengah ramainya Pro-Kontra masalah rencana
kenaikkan harga BBM, perhatian saya langsung tertuju pada salah satu petinggi
negeri ini, Widjajono Partowidagdo, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya
Mineral. Sosok yang ‘nyentrik’ dengan penampilan rambut gondrongnya yang khas
ini, tampil dengan ide-ide yang brilliant, meskipun tidak populer.
Dalam berbagai kesempatan, beliau dengan penuh kesabaran dan
pengertian, menjelaskan pentingnya harga BBM untuk naik, dan tidak
bosan-bosannya untuk mengajak semua masyarakat menghemat energi. Beliau juga
rajin memberikan masukkan-masukkan untuk solusi yang cerdas dan sangat
rasional. Dan semua yang beliau lakukan itu, jauh dari kepentingan politik
belaka, hal ini jelas terlihat ketika banyak masyarakat yang mencerca
ide-idenya itu, namun beliau tetap pada pendiriannya.
Mantan Guru Besar ITB yang lahir di Magelang, pada 16
September 1951 ini, juga mempunyai hobi yang keren, Mendaki Gunung. Sudah
banyak gunung-gunung tinggi di nusantara dan luar negeri yang sudah
ditaklukkannya. Hobi ini sangat melekat erat di jiwa beliau, hingga usia yang
sudah 60 tahun pun, tidak bisa menghalanginya untuk melakukan pendakian.
Terakhir, beliau melakukan pendakian di gunung Tambora, Nusa
Tenggara Barat. Saat melakukan pendakian di gunung itulah, beliau mengalami
sakit yang akhirnya mengantar beliau menghembuskan nafas terakhir.
Melihat hal ini, saya jadi teringat dengan Soe Hok Gie,
aktifis yang juga hobi mendaki, mereka sama-sama idealis dan punya kemauan
untuk memperjuangkan kebaikan bangsa, dan jauh dari kepentingan politik belaka.
Saya juga teringat kata-kata Hiroshima, mantan fotografer asal Jepang yang suka
bergaul dengan alam, kurang lebih seperti ini perkataannya: “Mati dikelilingi
alam, apalagi yang lebih baik?”
Kini, salah satu Putra terbaik bangsa, telah berpulang ke
pangkuan Sang Pemilik, Allah SWT. Semoga semua amal ibadahnya diterima oleh
Allah SWT, dan diampuni segala kesalahannya. Aamiin...
**)Tulisan ini saya dedikasikan untuk mengenang semangat dan
idealisme salah satu Tokoh kebanggan saya, Widjajono Partowidagdo, Phd.
Arif Firman Syah
Banyak orang mengatakan bahwa, Negara Minyak (sebutan untuk
negara penghasil minyak) pasti makmur dan sejahtera. Saya tentu sangat setuju
dengan pernyataan itu, karena minyak merupakan salah satu Sumber Daya Alam yang
tidak dapat diperbaharui, sedangkan jumlah yang membutuhkannya semakin lama
semakin banyak. Hal ini membuat minyak menjadi salah satu komoditi yang sangat ‘eksklusif’.
Yang pada akhirnya memunculkan pernyataan, “Siapa yang punya minyak, dialah
yang berkuasa”.
Tapi tunggu dulu, bukankah Indonesia juga merupakan Negara
Minyak? Namun, apakah Indonesia merupakan negara yang makmur dan sejahtera?
Saya rasa belum. Kalau begitu kenapa ini bisa terjadi? Terlepas dari masalah ‘koruptor’,
kita nampaknya perlu serius membahas masalah Minyak di Negara Minyak ini. Agar
ke depan tidak akan ada lagi ‘agenda rutin’ demo kenaikan BBM, (ingat, hal ini
sangat ‘saru’, mengingat Indonesia adalah negara penghasil minyak).
Kejadian seperti ini tak lain karena campur tangan ‘asing’. Terlalu
banyak perusahaan minyak asing yang bermain di bumi pertiwi ini. Sebagai ‘tamu’,
mereka kurang mengerti tentang ‘budi pekerti’ yang baik. Sebagai perusahaan
asing yang memerlukan sumber daya di Indonesia, mereka tidak peduli dengan
kemakmuran bangsa Indonesia sendiri. Sebaliknya, hanya mengambil keuntungan
sendiri, dan membawa keuntungan tersebut untuk negara asalnya. Apakah ini dapat
dikategorikan penjajahan? Jawabannya saya serahkan kepada Anda.
Lalu, kenapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya mudah, tidak
akan ada tamu yang masuk ke rumah, kalau tidak dibukakan pintu oleh pemilik
rumah, (kecuali maling). Peraturan pemerintah yang membolehkan perusahaan asing
untuk ‘bermain’ di Negara Besar inilah alasannya. Dengan peraturan tersebut,
banyak perusahaan yang bisa masuk dan ‘bermain’ secara leluasa di Negeri ini. Tanpa
batasan yang ‘keras’ untuk mengatur perusahaan-perusahaan asing tersebut. Sebagai
orang awam, saya mau coba bermain peraturan dan angka, misalnya dengan
mengharuskan setiap perusahaan asing memberikan 30% keuntungannya kepada bangsa
Indonesia.
Apa? 30 persen? Nggak kurang banyak tuh? Mana ada perusahaan
yang mau menyetujui itu?
Hehe... Kalau mereka tidak mau ya sudah, kita cari aja yang
mau, selesai. Lagipula, kita kan yang ‘punya’ minyak, kenapa kita harus takut
kehilangan mereka. Justru seharusnya mereka yang takut kehilangan kita, iya kan?
Tapi kan perusahaan pasti butuh yang namanya
market/konsumen...
Hmm, ingat berapa jumlah penduduk Indonesia saat ini? Lebih dari
241 juta jiwa, dan lebih dari 60% nya pengguna Minyak. Dari perspektif seorang
pengusaha, ini merupakan ‘market’ yang luar biasa besar tentunya.
Bagaimana dengan peralatan-peralatan untuk pertambangan dan
pengolahan minyak itu? Bukankah Indonesia tidak punya alat ‘secanggih’ yang
dimiliki asing?
Peralatan canggih itu bisa dibeli dibuat, daripada sekedar
membeli, kenapa tidak kita kirimkan saja Putra-Putri bangsa Indonesia untuk
mempelajari cara pembuatannya di luar negeri, untuk nantinya dapat membuat ‘alat
canggih’ sendiri, di Negeri sendiri, untuk Negeri sendiri. Bukankah itu lebih
bagus.
Lalu, SDM nya apakah ada yang ‘sehandal’ SDM asing?
Oh , jangan salah! Banyak Putra-Putri Indonesia yang berjaya
di luar negeri. Tidak sedikit dari mereka yang menjadi ‘leader’ dari orang-orang
asing di negerinya orang asing.
Terakhir, apakah bisa hal-hal itu direalisasikan? Kok kesannya
semudah itu ya...
Sangat bisa, dan memang sangat mudah. Asalkan Bangsa ini mau
mempertahankan idealismenya, sebagai Negara yang kaya dan berbudi luhur, tidak
mudah diberi iming-iming oleh asing. Ingat, pada era Bung Karno, beliau pernah
melakukan hal yang kurang lebih sama seperti catatan saya di atas. Dan beliau
berhasil ‘menundukkan’ asing dengan peraturan yang sangat berpihak kepada
bangsa Indonesia, dan hal itulah yang menyebabkan Bung Karno tidak disukai oleh
‘asing’. Tapi Beliau tetap menjaga idealismenya, tetap pada pendiriannya.
Tidak hanya pada minyak, karena bukan minyak saja yang kita
miliki. Ingat, kita punya 3 elemen penting, Produk-Produsen-Market, di
Indonesia semua itu ada. Kita punya minyak, kita kelola sendiri, kita pakai
sendiri. Kita punya tambang Emas, kita kelola sendiri, kita pakai sendiri. Kita
punya tambang Batubara, kita kelola sendiri, kita pakai sendiri. Kita punya
Laut yang kaya, kita kelola sendiri, kita pakai sendiri. Dan seterusnya. Dengan
begini, saya yakin Indonesia akan menjadi Negara yang benar-benar Merdeka,
tanpa terjajah sedikit pun.
Arif Firman Syah (Flanzka)
Indonesia Negara Merdeka
Tulisan
Banyak orang mengatakan bahwa, Negara Minyak (sebutan untuk
negara penghasil minyak) pasti makmur dan sejahtera. Saya tentu sangat setuju
dengan pernyataan itu, karena minyak merupakan salah satu Sumber Daya Alam yang
tidak dapat diperbaharui, sedangkan jumlah yang membutuhkannya semakin lama
semakin banyak. Hal ini membuat minyak menjadi salah satu komoditi yang sangat ‘eksklusif’.
Yang pada akhirnya memunculkan pernyataan, “Siapa yang punya minyak, dialah
yang berkuasa”.
Tapi tunggu dulu, bukankah Indonesia juga merupakan Negara
Minyak? Namun, apakah Indonesia merupakan negara yang makmur dan sejahtera?
Saya rasa belum. Kalau begitu kenapa ini bisa terjadi? Terlepas dari masalah ‘koruptor’,
kita nampaknya perlu serius membahas masalah Minyak di Negara Minyak ini. Agar
ke depan tidak akan ada lagi ‘agenda rutin’ demo kenaikan BBM, (ingat, hal ini
sangat ‘saru’, mengingat Indonesia adalah negara penghasil minyak).
Kejadian seperti ini tak lain karena campur tangan ‘asing’. Terlalu
banyak perusahaan minyak asing yang bermain di bumi pertiwi ini. Sebagai ‘tamu’,
mereka kurang mengerti tentang ‘budi pekerti’ yang baik. Sebagai perusahaan
asing yang memerlukan sumber daya di Indonesia, mereka tidak peduli dengan
kemakmuran bangsa Indonesia sendiri. Sebaliknya, hanya mengambil keuntungan
sendiri, dan membawa keuntungan tersebut untuk negara asalnya. Apakah ini dapat
dikategorikan penjajahan? Jawabannya saya serahkan kepada Anda.
Lalu, kenapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya mudah, tidak
akan ada tamu yang masuk ke rumah, kalau tidak dibukakan pintu oleh pemilik
rumah, (kecuali maling). Peraturan pemerintah yang membolehkan perusahaan asing
untuk ‘bermain’ di Negara Besar inilah alasannya. Dengan peraturan tersebut,
banyak perusahaan yang bisa masuk dan ‘bermain’ secara leluasa di Negeri ini. Tanpa
batasan yang ‘keras’ untuk mengatur perusahaan-perusahaan asing tersebut. Sebagai
orang awam, saya mau coba bermain peraturan dan angka, misalnya dengan
mengharuskan setiap perusahaan asing memberikan 30% keuntungannya kepada bangsa
Indonesia.
Apa? 30 persen? Nggak kurang banyak tuh? Mana ada perusahaan
yang mau menyetujui itu?
Hehe... Kalau mereka tidak mau ya sudah, kita cari aja yang
mau, selesai. Lagipula, kita kan yang ‘punya’ minyak, kenapa kita harus takut
kehilangan mereka. Justru seharusnya mereka yang takut kehilangan kita, iya kan?
Tapi kan perusahaan pasti butuh yang namanya
market/konsumen...
Hmm, ingat berapa jumlah penduduk Indonesia saat ini? Lebih dari
241 juta jiwa, dan lebih dari 60% nya pengguna Minyak. Dari perspektif seorang
pengusaha, ini merupakan ‘market’ yang luar biasa besar tentunya.
Bagaimana dengan peralatan-peralatan untuk pertambangan dan
pengolahan minyak itu? Bukankah Indonesia tidak punya alat ‘secanggih’ yang
dimiliki asing?
Peralatan canggih itu bisa dibeli dibuat, daripada sekedar
membeli, kenapa tidak kita kirimkan saja Putra-Putri bangsa Indonesia untuk
mempelajari cara pembuatannya di luar negeri, untuk nantinya dapat membuat ‘alat
canggih’ sendiri, di Negeri sendiri, untuk Negeri sendiri. Bukankah itu lebih
bagus.
Lalu, SDM nya apakah ada yang ‘sehandal’ SDM asing?
Oh , jangan salah! Banyak Putra-Putri Indonesia yang berjaya
di luar negeri. Tidak sedikit dari mereka yang menjadi ‘leader’ dari orang-orang
asing di negerinya orang asing.
Terakhir, apakah bisa hal-hal itu direalisasikan? Kok kesannya
semudah itu ya...
Sangat bisa, dan memang sangat mudah. Asalkan Bangsa ini mau
mempertahankan idealismenya, sebagai Negara yang kaya dan berbudi luhur, tidak
mudah diberi iming-iming oleh asing. Ingat, pada era Bung Karno, beliau pernah
melakukan hal yang kurang lebih sama seperti catatan saya di atas. Dan beliau
berhasil ‘menundukkan’ asing dengan peraturan yang sangat berpihak kepada
bangsa Indonesia, dan hal itulah yang menyebabkan Bung Karno tidak disukai oleh
‘asing’. Tapi Beliau tetap menjaga idealismenya, tetap pada pendiriannya.
Tidak hanya pada minyak, karena bukan minyak saja yang kita
miliki. Ingat, kita punya 3 elemen penting, Produk-Produsen-Market, di
Indonesia semua itu ada. Kita punya minyak, kita kelola sendiri, kita pakai
sendiri. Kita punya tambang Emas, kita kelola sendiri, kita pakai sendiri. Kita
punya tambang Batubara, kita kelola sendiri, kita pakai sendiri. Kita punya
Laut yang kaya, kita kelola sendiri, kita pakai sendiri. Dan seterusnya. Dengan
begini, saya yakin Indonesia akan menjadi Negara yang benar-benar Merdeka,
tanpa terjajah sedikit pun.
Arif Firman Syah (Flanzka)
“Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan
prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap
kemunafikan.”
SOE HOK GIE, atau yang akrab disebut GIE, seorang keturunan
China yang lahir pada 17 Desember 1942. Terkenal sebagai seorang aktifis di
tahun 60-an. Dia sering mengkritik pemerintahan pada masanya lewat
tulisan-tulisan yang fenomenal.
Lulus dengan nilai sangat baik, Gie dapat melanjutkan kuliah
di Universitas Indonesia, jurusan Sastra Sejarah. Di masa kuliah inilah Gie
menjadi aktifis kemahasiswaan. Banyak yang meyakini gerakan Gie berpengaruh
besar terhadap tumbangnya Soekarno, dan termasuk orang pertama yang mengritik
tajam rezim Orde Baru.
Gie sangat kecewa dengan sikap teman-teman seangkatannya
yang di era demonstrasi tahun 66 mengritik dan mengutuk para pejabat
pemerintah, namun kemudian selepas mereka lulus, mereka berpihak ke pemerintah dan lupa dengan visi
dan misi perjuangan angkatan 66. Gie memang sosok yang sangat idealis dan kuat
akan pendiriannya.
Sebagai seorang pendiri MAPALA (Mahasiswa Pecinta Alam)
Universitas Indonesia, Gie sangat menyukai pendakian. Bersama Mapala UI Gie
berencana menaklukkan Gunung Semeru yang tingginya 3.676m. Sewaktu Mapala
mencari pendanaan, banyak yang bertanya kenapa naik gunung dan Gie berkata
kepada teman-temannya:
“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan
bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme
tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat
mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah
air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya
dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula
pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”
8 Desember, sebelum Gie berangkat, dia sempat menuliskan
catatannya : “Saya tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Setelah saya
mendengar kematian Kian Fong dari Arief hari Minggu yang lalu. Saya juga punya
perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin mengobrol-ngobrol pamit
sebelum ke semeru. Dengan Maria, Rina dan juga ingin membuat acara yang intim
dengan Sunarti. Saya kira ini adalah pengaruh atas kematian Kian Fong yang
begitu aneh dan begitu cepat.”
Gie meninggal di gunung Semeru pada 16 Desember 1969, tepat
sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 akibat menghirup asap beracun di
gunung tersebut. Dia meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis.
Selanjutnya catatan selama ke Gunung Semeru lenyap bersamaan dengan
meninggalnya Gie di puncak gunung tersebut.
Musibah kematian Gie di puncak Semeru sempat membuat
teman-temannya bingung mencari alat transportasi untuk membawa jenazah Gie ke
Jakarta. Tiba-tiba sebuah pesawat Antonov milik AURI mendarat di Malang.
Pesawat itu sedang berpatroli rutin di Laut Selatan Jawa, Begitu mendengar
kabar kematian Gie, Menteri Perhubungan saat itu Frans Seda memerintahkan
pesawat berbelok ke Malang. “Saat jenasah masuk ke pesawat, seluruh awak kabin
memberi penghormatan militer. Mereka kenal Gie!”, kata Badil (teman Gie yang
ikut dalam pendakian tersebut).
Jenazah Gie semula dimakamkan di Menteng Pulo. Namun pada 24
Desember 1969, jenazahnya dipindahkan ke Pekuburan Kober Tanah Abang agar dekat
dengan kediaman ibunya. Dua tahun kemudian, kuburannya terkena penggusuran
proyek pembangunan prasasti. Keluarga dan teman-temannya, memutuskan menumbuk
sisa-sisa tulang belulang Gie.
“Serbuknya kami tebar di antara bunga-bunga Edelweiss di
lembah Mandalawangi di Puncak Pangrango. Di tempat itu Gie biasa merenung
seperti patung”, kata Rudy Badil (sahabat Gie).
“Pertanyaan pertama yang harus kita jawab adalah: Who am I?
Saya telah menjawab bahwa saya adalah seorang intelektual yang tidak mengejar
kuasa tapi seorang yang ingin mencanangkan kebenaran. Dan saya bersedia
menghadapi ketidak-populeran, karena ada suatu yang lebih besar: kebenaran.”
Soe Hok Gie
( 1942 – 1969 )
Soe Hok Gie
Tokoh
“Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan
prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap
kemunafikan.”
SOE HOK GIE, atau yang akrab disebut GIE, seorang keturunan
China yang lahir pada 17 Desember 1942. Terkenal sebagai seorang aktifis di
tahun 60-an. Dia sering mengkritik pemerintahan pada masanya lewat
tulisan-tulisan yang fenomenal.
Lulus dengan nilai sangat baik, Gie dapat melanjutkan kuliah
di Universitas Indonesia, jurusan Sastra Sejarah. Di masa kuliah inilah Gie
menjadi aktifis kemahasiswaan. Banyak yang meyakini gerakan Gie berpengaruh
besar terhadap tumbangnya Soekarno, dan termasuk orang pertama yang mengritik
tajam rezim Orde Baru.
Gie sangat kecewa dengan sikap teman-teman seangkatannya
yang di era demonstrasi tahun 66 mengritik dan mengutuk para pejabat
pemerintah, namun kemudian selepas mereka lulus, mereka berpihak ke pemerintah dan lupa dengan visi
dan misi perjuangan angkatan 66. Gie memang sosok yang sangat idealis dan kuat
akan pendiriannya.
Sebagai seorang pendiri MAPALA (Mahasiswa Pecinta Alam)
Universitas Indonesia, Gie sangat menyukai pendakian. Bersama Mapala UI Gie
berencana menaklukkan Gunung Semeru yang tingginya 3.676m. Sewaktu Mapala
mencari pendanaan, banyak yang bertanya kenapa naik gunung dan Gie berkata
kepada teman-temannya:
“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan
bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme
tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat
mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah
air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya
dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula
pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”
8 Desember, sebelum Gie berangkat, dia sempat menuliskan
catatannya : “Saya tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Setelah saya
mendengar kematian Kian Fong dari Arief hari Minggu yang lalu. Saya juga punya
perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin mengobrol-ngobrol pamit
sebelum ke semeru. Dengan Maria, Rina dan juga ingin membuat acara yang intim
dengan Sunarti. Saya kira ini adalah pengaruh atas kematian Kian Fong yang
begitu aneh dan begitu cepat.”
Gie meninggal di gunung Semeru pada 16 Desember 1969, tepat
sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 akibat menghirup asap beracun di
gunung tersebut. Dia meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis.
Selanjutnya catatan selama ke Gunung Semeru lenyap bersamaan dengan
meninggalnya Gie di puncak gunung tersebut.
Musibah kematian Gie di puncak Semeru sempat membuat
teman-temannya bingung mencari alat transportasi untuk membawa jenazah Gie ke
Jakarta. Tiba-tiba sebuah pesawat Antonov milik AURI mendarat di Malang.
Pesawat itu sedang berpatroli rutin di Laut Selatan Jawa, Begitu mendengar
kabar kematian Gie, Menteri Perhubungan saat itu Frans Seda memerintahkan
pesawat berbelok ke Malang. “Saat jenasah masuk ke pesawat, seluruh awak kabin
memberi penghormatan militer. Mereka kenal Gie!”, kata Badil (teman Gie yang
ikut dalam pendakian tersebut).
Jenazah Gie semula dimakamkan di Menteng Pulo. Namun pada 24
Desember 1969, jenazahnya dipindahkan ke Pekuburan Kober Tanah Abang agar dekat
dengan kediaman ibunya. Dua tahun kemudian, kuburannya terkena penggusuran
proyek pembangunan prasasti. Keluarga dan teman-temannya, memutuskan menumbuk
sisa-sisa tulang belulang Gie.
“Serbuknya kami tebar di antara bunga-bunga Edelweiss di
lembah Mandalawangi di Puncak Pangrango. Di tempat itu Gie biasa merenung
seperti patung”, kata Rudy Badil (sahabat Gie).
“Pertanyaan pertama yang harus kita jawab adalah: Who am I?
Saya telah menjawab bahwa saya adalah seorang intelektual yang tidak mengejar
kuasa tapi seorang yang ingin mencanangkan kebenaran. Dan saya bersedia
menghadapi ketidak-populeran, karena ada suatu yang lebih besar: kebenaran.”
Soe Hok Gie
( 1942 – 1969 )
Seorang anak kecil bertubuh dekil
Tertidur berbantal sebelah lengan
Berselimut debu jalanan
Rindang pohon jalan menunggu rela
Kawan setia sehabis bekerja
Siang di seberang sebuah istana
Siang di seberang istana sang raja
Kotak semir mungil dan sama dekil
Benteng rapuh dari lapar memanggil
Gardu dan mata para penjaga
Saksi nyata....... yang sudah terbiasa
Tamu negara tampak terpesona
Mengelus dada gelengkan kepala
Saksikan perbedaaan yang ada
Sombong melangkah istana yang megah
Seakan meludah di atas tubuh yang resah
Ribuan jerit di depan hidungmu
Namun yang ku tau.... tak terasa terganggu
Gema azan ashar sentuh telinga
Buyarkan mimpi si kecil siang tadi
Dia berjalan malas melangkahkan kaki
Diraihnya mimpi digenggam tak diletakkan...
lagi...
Iwan Fals
Siang Seberang Istana
Tokoh
Tertidur berbantal sebelah lengan
Berselimut debu jalanan
Rindang pohon jalan menunggu rela
Kawan setia sehabis bekerja
Siang di seberang sebuah istana
Siang di seberang istana sang raja
Kotak semir mungil dan sama dekil
Benteng rapuh dari lapar memanggil
Gardu dan mata para penjaga
Saksi nyata....... yang sudah terbiasa
Tamu negara tampak terpesona
Mengelus dada gelengkan kepala
Saksikan perbedaaan yang ada
Sombong melangkah istana yang megah
Seakan meludah di atas tubuh yang resah
Ribuan jerit di depan hidungmu
Namun yang ku tau.... tak terasa terganggu
Gema azan ashar sentuh telinga
Buyarkan mimpi si kecil siang tadi
Dia berjalan malas melangkahkan kaki
Diraihnya mimpi digenggam tak diletakkan...
lagi...
Iwan Fals
Adalah Robin Lim, seorang perempuan kelahiran Arizona,
Amerika Serikat, pada 24 November 1936, yang mendirikan yayasan Bumi Sehat.
Sebuah yayasan yang berdiri pada 1994 di Ubud, Bali, tepatnya di desa Nyuh Kuning. Yayasan ini berfokus pada
kesehatan ibu hamil dan bayi. Yang menarik, layanan ini diberikan secara gratis
pada para ibu hamil yang kurang mampu.
Perempuan yang akrab disapa Ibu Robin ini, terus memberikan
pengabdiannya kepada masyarakat, tidak hanya di Bali, tapi juga di Aceh. Hal
inilah yang membuat stasiun televisi terkemuka, CNN, memberinya gelar “CNN Hero
2011”.
Pada satu kesempatan, saya sangat kagum dengan perkataan
beliau. Ketika belia ditanya, “Apa motivasi Anda melakukan (pengabdian) ini
semua ? “, lalu beliau menjawab, “Saya tidak punya motivasi apapun, saya hanya
ingin melakukan yang terbaik untuk dunia ini, dengan cinta”. Hmm, Just Do It...
"Every mother counts and healthcare is a human
right." ~ Ibu Robin Lim
Ibu Robin Lim
Tokoh
Adalah Robin Lim, seorang perempuan kelahiran Arizona,
Amerika Serikat, pada 24 November 1936, yang mendirikan yayasan Bumi Sehat.
Sebuah yayasan yang berdiri pada 1994 di Ubud, Bali, tepatnya di desa Nyuh Kuning. Yayasan ini berfokus pada
kesehatan ibu hamil dan bayi. Yang menarik, layanan ini diberikan secara gratis
pada para ibu hamil yang kurang mampu.
Perempuan yang akrab disapa Ibu Robin ini, terus memberikan
pengabdiannya kepada masyarakat, tidak hanya di Bali, tapi juga di Aceh. Hal
inilah yang membuat stasiun televisi terkemuka, CNN, memberinya gelar “CNN Hero
2011”.
Pada satu kesempatan, saya sangat kagum dengan perkataan
beliau. Ketika belia ditanya, “Apa motivasi Anda melakukan (pengabdian) ini
semua ? “, lalu beliau menjawab, “Saya tidak punya motivasi apapun, saya hanya
ingin melakukan yang terbaik untuk dunia ini, dengan cinta”. Hmm, Just Do It...
"Every mother counts and healthcare is a human
right." ~ Ibu Robin Lim





