"Idealisme terlalu penting untuk dikesampingkan. Idealisme menuntun kita menemukan diri kita yang sebenarnya..."

Arif Firman Syah


Assalamu’alaikum...

                Berbicara tentang CEO, berarti bicara mengenai ‘Tanggung Jawab’. Bukan hanya sebatas tanggung jawab terhadap Perusahaan, Keluarga (Sumber Daya Manusia) perusahaan, atau para investor saja, tetapi juga tanggung jawab terhadap Bangsa ini, dan Tuhan !

                Ya, memang seserius ini arti sebuah kedudukan CEO. Maka dari itu, harus sangat serius pula dalam mengemban ‘misinya’. Sebagai seorang CEO Bakrie Grup, saat ini saya ingin memaparkan misi-misi saya ke depan.

                Masih hangat di benak kita, mengenai keinginan Prof. Widjajono Partowidagdo (alm), agar bangsa ini mulai berlatih untuk beralih dari energi minyak ke energi alternatif lain. Keinginan ini menjadi sebuah sinyal yang sangat kuat, mengingat beliau adalah salah satu pakar minyak yang sangat bijak di negeri ini. Sinyal untuk benar-benar mulai memikirkan dan menggunakan energi alternatif lain, selain minyak.

                Berangkat dari keinginan itu, saya mulai berpikir untuk ‘menggarap’ sebuah unit usaha baru, Otomotif. Lebih tepatnya, membangun perusahan otomotif yang ramah lingkungan, seperti misalnya mobil listrik.

                “ Hey tunggu dulu, kenapa mobil listrik ? Apakah ini akan menjanjikan ? “

Hmm, sudah saya jelaskan di atas, bahwa saat ini adalah saat yang paling tepat untuk mulai beralih menggunakan energi selain minyak, karena persediaan minyak bumi semakin lama semakin menipis. Dan listrik, mungkin akan menjadi salah satu energi alternatif yang paling menjanjikan. Lagi pula, perusahaan-perusahaan otomotif raksasa pun juga sudah melirik mobil listrik, sebut saja Nissan, Ford, dll. Mereka juga pasti punya alasan yang kuat untuk itu.

                “ Tapi kan belum ada contoh yang berhasil dalam bisnis ini ? ”

                Hehe, jangan bercanda seperti itu. Justru karena belum ada yang ‘berani’ membuat produksi mobil listrik inilah, perusahaan saya akan menjadi yang pertama di Asia, atau bahkan mungkin di dunia, yang sukses pertama kali meluncurkan produk mobil listrik. Apalagi, dalam teori marketing kita mengenal  bahwa, “siapa yang pertama akan menjadi pemimpin di hati konsumen, dan yang berikutnya hanya akan menjadi pengikut / penjiplak”. Ini jelas menjadi salah satu keuntungan kita sebagai Perusahaan pertama yang memproduksi mobil listrik.

                “ Masalah Brand ? Apakah tidak takut dengan brand lain yang sudah terkenal ? ”

                Hey, siapa yang tidak kenal dengan Bakrie Group ? hehe... Perusahaan saya sudah berusia 70 tahun, sudah membuktikan diri sebagai perusahaan yang kuat. Ini merupakan keuntungan berikutnya yang akan semakin memperlancar bisnis mobil listrik nantinya. Dengan brand yang sudah sangat melekat kuat dengan citra yang baik, insya Allah ini akan menjadi senjata yang ampuh untuk masuk bersaing di industri otomotif dalam negeri.

                Dengan dua keunggulan di atas, semakin mantap rasanya untuk menggarap industri baru ini. Apalagi, beberapa bulan yang lalu Bangsa ini sempat ramai dengan kegembiraan rakyat Indonesia menyambut ‘calon Mobil Nasional’ yang dirancang oleh saudara-saudara kita dari SMK. Hal ini tentu juga menjadi sinyal bahwa masyarakat Indonesia sangat mencintai produk Indonesia, bahkan sangat ‘menanti’. Dan saya sebagai CEO perusahaan raksasa nusantara ini, sudah tidak sabar untuk menyambut penantian itu, dengan segera meluncurkan mobil listrik karya anak bangsa.

                Apabila unit usaha ini sudah benar-benar diluncurkan, maka akan ada sebuah unit usaha baru yang saling bersinergi, Stasiun Pengisian Energi Listrik (SPEL), semacam SPBU yang sudah ada sekarang ini. Usaha ini juga akan sangat menguntungkan nantinya.

                Tapi, hari ini dengan sangat prihatin, saya juga ingin memaparkan isu-isu negatif yang ‘berseliweran’ di Bakrie Group. Yang pertama mengenai isu ancaman gagal bayar, yang menyebabkan anjloknya saham beberapa anak usaha, seperti PT Energi Mega Persada Tbk (ENGR) dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Hal ini jelas merupakan pukulan yang dahsyat dari ‘sekedar isu’. Tapi di sini saya tegaskan, bahwa hal tersebut sudah berhasil diatasi dan sudah diselesaikan dengan sangat  baik oleh pemimpin perusahaan masing-masing.

                Yang kedua, yang ingin saya bahas lebih dalam di sini, tentang ancaman yang ‘mungkin’ akan datang dari unit usaha Bakrie Telecom. Mungkin ini akan menjadi masalah yang besar apabila dikesampingkan, karena kita sudah terlanjur terjun di pasar yang sempit, namun banyak pemain. Ya, jaringan telekomunikasi berbasis CDMA, seberapa besar pasarnya ? tapi seberapa banyak pemainnya ? saya rasa jawaban kita semua sama, pasar kecil namun banyak pemain.

                Sebagai pebisnis, kita tentu sepakat dengan ungkapan ini, ‘lebih baik rugi 4 poin daripada rugi 6 poin, dan lebih baik rugi 6 poin daripada rugi 8 poin’. Apakah ini berarti saya harus melepas Bakrie Telecom untuk menghindari kerugian besar yang ‘mungkin’ akan muncul nantinya ? Tidak, bukan seperti itu maksud saya. Saya hanya akan memberikan pilihan terhadap saya sendiri dan para pemimpin Bakrie Telecom, ‘karena banyaknya pemain, apakah Anda ingin diakuisisi, atau malah mengakuisisi?’. Dan saya berharap semua setuju untuk menjawab mengakuisisi. Di pasar ini, banyak pemain yang sudah ‘mendrip’ (redup) yang mungkin bisa untuk diberikan tawaran akuisisi. Hal ini akan memberikan 2 keuntungan, berkurangnya pesaing dan bertambahnya pelanggan (dari perusahaan yang diakuisisi tersebut).

                Di atas, adalah dari segi korporasi, sedangkan dari segi peningkatan produk, saya akan memfokuskan pada layanan multimedia, di sini saya memiliki ‘Aha Mobile’ sebagai senjatanya. Selain sudah memiliki jaringan EVDO, Aha juga sudah memiliki pelanggan yang lumayan banyak. Tapi tidak cukup sampai di situ, karena para pesaing sedang mengincar kita. Mungkin saya juga akan lebih memperkuat kerjasama dengan beberapa produsen ponsel terkemuka, untuk melakukan bundling produk dengan mereka. Hal ini mungkin akan menjawab sedikit tantangan dari kemajuan teknologi smartphone dan mobile access. 

Selain itu, saya juga akan membuat sebuah media (atau bisa dikatakan sosial media) yang terintegrasi dengan Bakrie Telecom. Misalnya seperti Bakrie Telecom Mesenger, yang hanya bisa dinikmati oleh pelanggan BTEL saja. Namun memiliki nilai lebih daripada sosial media lainnya, seperti Facebook. Intinya, jangan pernah biarkan pelanggan untuk melirik pemain lain, kita harus bisa memfasilitasi apapun keinginan pelanggan dalam hal multimedia.

                Akhirnya, telah saya jelaskan beberapa keuntungan, kekurangan, peluang, bahkan ancaman yang dihadapi Bakrie Group. Semoga sebagai CEO, saya dapat menyikapi semua itu dengan bijak, dengan mengedepankan kepentingan Bangsa ini, tidak ada artinya kejayaan Bakrie Group (sebuah Perusahaan Nusantara) tanpa dibarengi kejayaan Bangsa Indonesia. Selamat ulang tahun Group Bakrie yang ke-70, semoga semakin berjaya dan bermanfaat bagi Bangsa dan Negara. Aamiin...
CEO Untuk Negeri

 Innalillahi wa inna ilaihi rojiun...

Ditengah-tengah ramainya Pro-Kontra masalah rencana kenaikkan harga BBM, perhatian saya langsung tertuju pada salah satu petinggi negeri ini, Widjajono Partowidagdo, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. Sosok yang ‘nyentrik’ dengan penampilan rambut gondrongnya yang khas ini, tampil dengan ide-ide yang brilliant, meskipun tidak populer.

Dalam berbagai kesempatan, beliau dengan penuh kesabaran dan pengertian, menjelaskan pentingnya harga BBM untuk naik, dan tidak bosan-bosannya untuk mengajak semua masyarakat menghemat energi. Beliau juga rajin memberikan masukkan-masukkan untuk solusi yang cerdas dan sangat rasional. Dan semua yang beliau lakukan itu, jauh dari kepentingan politik belaka, hal ini jelas terlihat ketika banyak masyarakat yang mencerca ide-idenya itu, namun beliau tetap pada pendiriannya.

Mantan Guru Besar ITB yang lahir di Magelang, pada 16 September 1951 ini, juga mempunyai hobi yang keren, Mendaki Gunung. Sudah banyak gunung-gunung tinggi di nusantara dan luar negeri yang sudah ditaklukkannya. Hobi ini sangat melekat erat di jiwa beliau, hingga usia yang sudah 60 tahun pun, tidak bisa menghalanginya untuk melakukan pendakian.

Terakhir, beliau melakukan pendakian di gunung Tambora, Nusa Tenggara Barat. Saat melakukan pendakian di gunung itulah, beliau mengalami sakit yang akhirnya mengantar beliau menghembuskan nafas terakhir.

Melihat hal ini, saya jadi teringat dengan Soe Hok Gie, aktifis yang juga hobi mendaki, mereka sama-sama idealis dan punya kemauan untuk memperjuangkan kebaikan bangsa, dan jauh dari kepentingan politik belaka. Saya juga teringat kata-kata Hiroshima, mantan fotografer asal Jepang yang suka bergaul dengan alam, kurang lebih seperti ini perkataannya: “Mati dikelilingi alam, apalagi yang lebih baik?”

Kini, salah satu Putra terbaik bangsa, telah berpulang ke pangkuan Sang Pemilik, Allah SWT. Semoga semua amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT, dan diampuni segala kesalahannya. Aamiin...

**)Tulisan ini saya dedikasikan untuk mengenang semangat dan idealisme salah satu Tokoh kebanggan saya, Widjajono Partowidagdo, Phd.

Arif Firman Syah
Selamat Jalan, Guru Besar


Banyak orang mengatakan bahwa, Negara Minyak (sebutan untuk negara penghasil minyak) pasti makmur dan sejahtera. Saya tentu sangat setuju dengan pernyataan itu, karena minyak merupakan salah satu Sumber Daya Alam yang tidak dapat diperbaharui, sedangkan jumlah yang membutuhkannya semakin lama semakin banyak. Hal ini membuat minyak menjadi salah satu komoditi yang sangat ‘eksklusif’. Yang pada akhirnya memunculkan pernyataan, “Siapa yang punya minyak, dialah yang berkuasa”.

Tapi tunggu dulu, bukankah Indonesia juga merupakan Negara Minyak? Namun, apakah Indonesia merupakan negara yang makmur dan sejahtera? Saya rasa belum. Kalau begitu kenapa ini bisa terjadi? Terlepas dari masalah ‘koruptor’, kita nampaknya perlu serius membahas masalah Minyak di Negara Minyak ini. Agar ke depan tidak akan ada lagi ‘agenda rutin’ demo kenaikan BBM, (ingat, hal ini sangat ‘saru’, mengingat Indonesia adalah negara penghasil minyak).

Kejadian seperti ini tak lain karena campur tangan ‘asing’. Terlalu banyak perusahaan minyak asing yang bermain di bumi pertiwi ini. Sebagai ‘tamu’, mereka kurang mengerti tentang ‘budi pekerti’ yang baik. Sebagai perusahaan asing yang memerlukan sumber daya di Indonesia, mereka tidak peduli dengan kemakmuran bangsa Indonesia sendiri. Sebaliknya, hanya mengambil keuntungan sendiri, dan membawa keuntungan tersebut untuk negara asalnya. Apakah ini dapat dikategorikan penjajahan? Jawabannya saya serahkan kepada Anda.

Lalu, kenapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya mudah, tidak akan ada tamu yang masuk ke rumah, kalau tidak dibukakan pintu oleh pemilik rumah, (kecuali maling). Peraturan pemerintah yang membolehkan perusahaan asing untuk ‘bermain’ di Negara Besar inilah alasannya. Dengan peraturan tersebut, banyak perusahaan yang bisa masuk dan ‘bermain’ secara leluasa di Negeri ini. Tanpa batasan yang ‘keras’ untuk mengatur perusahaan-perusahaan asing tersebut. Sebagai orang awam, saya mau coba bermain peraturan dan angka, misalnya dengan mengharuskan setiap perusahaan asing memberikan 30% keuntungannya kepada bangsa Indonesia. 

Apa? 30 persen? Nggak kurang banyak tuh? Mana ada perusahaan yang mau menyetujui itu?

Hehe... Kalau mereka tidak mau ya sudah, kita cari aja yang mau, selesai. Lagipula, kita kan yang ‘punya’ minyak, kenapa kita harus takut kehilangan mereka. Justru seharusnya mereka yang takut  kehilangan kita, iya kan? 

Tapi kan perusahaan pasti butuh yang namanya market/konsumen...

Hmm, ingat berapa jumlah penduduk Indonesia saat ini? Lebih dari 241 juta jiwa, dan lebih dari 60% nya pengguna Minyak. Dari perspektif seorang pengusaha, ini merupakan ‘market’ yang luar biasa besar tentunya.

Bagaimana dengan peralatan-peralatan untuk pertambangan dan pengolahan minyak itu? Bukankah Indonesia tidak punya alat ‘secanggih’ yang dimiliki asing?

Peralatan canggih itu bisa dibeli dibuat, daripada sekedar membeli, kenapa tidak kita kirimkan saja Putra-Putri bangsa Indonesia untuk mempelajari cara pembuatannya di luar negeri, untuk nantinya dapat membuat ‘alat canggih’ sendiri, di Negeri sendiri, untuk Negeri sendiri. Bukankah itu lebih bagus.

Lalu, SDM nya apakah ada yang ‘sehandal’ SDM asing?

Oh , jangan salah! Banyak Putra-Putri Indonesia yang berjaya di luar negeri. Tidak sedikit dari mereka yang menjadi ‘leader’ dari orang-orang asing di negerinya orang asing.

Terakhir, apakah bisa hal-hal itu direalisasikan? Kok kesannya semudah itu ya...

Sangat bisa, dan memang sangat mudah. Asalkan Bangsa ini mau mempertahankan idealismenya, sebagai Negara yang kaya dan berbudi luhur, tidak mudah diberi iming-iming oleh asing. Ingat, pada era Bung Karno, beliau pernah melakukan hal yang kurang lebih sama seperti catatan saya di atas. Dan beliau berhasil ‘menundukkan’ asing dengan peraturan yang sangat berpihak kepada bangsa Indonesia, dan hal itulah yang menyebabkan Bung Karno tidak disukai oleh ‘asing’. Tapi Beliau tetap menjaga idealismenya, tetap pada pendiriannya.

Tidak hanya pada minyak, karena bukan minyak saja yang kita miliki. Ingat, kita punya 3 elemen penting, Produk-Produsen-Market, di Indonesia semua itu ada. Kita punya minyak, kita kelola sendiri, kita pakai sendiri. Kita punya tambang Emas, kita kelola sendiri, kita pakai sendiri. Kita punya tambang Batubara, kita kelola sendiri, kita pakai sendiri. Kita punya Laut yang kaya, kita kelola sendiri, kita pakai sendiri. Dan seterusnya. Dengan begini, saya yakin Indonesia akan menjadi Negara yang benar-benar Merdeka, tanpa terjajah sedikit pun.

Arif Firman Syah (Flanzka)
Indonesia Negara Merdeka


“Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan.”

SOE HOK GIE, atau yang akrab disebut GIE, seorang keturunan China yang lahir pada 17 Desember 1942. Terkenal sebagai seorang aktifis di tahun 60-an. Dia sering mengkritik pemerintahan pada masanya lewat tulisan-tulisan yang fenomenal.

Lulus dengan nilai sangat baik, Gie dapat melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia, jurusan Sastra Sejarah. Di masa kuliah inilah Gie menjadi aktifis kemahasiswaan. Banyak yang meyakini gerakan Gie berpengaruh besar terhadap tumbangnya Soekarno, dan termasuk orang pertama yang mengritik tajam rezim Orde Baru.

Gie sangat kecewa dengan sikap teman-teman seangkatannya yang di era demonstrasi tahun 66 mengritik dan mengutuk para pejabat pemerintah, namun kemudian selepas mereka lulus, mereka  berpihak ke pemerintah dan lupa dengan visi dan misi perjuangan angkatan 66. Gie memang sosok yang sangat idealis dan kuat akan pendiriannya.

Sebagai seorang pendiri MAPALA (Mahasiswa Pecinta Alam) Universitas Indonesia, Gie sangat menyukai pendakian. Bersama Mapala UI Gie berencana menaklukkan Gunung Semeru yang tingginya 3.676m. Sewaktu Mapala mencari pendanaan, banyak yang bertanya kenapa naik gunung dan Gie berkata kepada teman-temannya:

“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”

8 Desember, sebelum Gie berangkat, dia sempat menuliskan catatannya : “Saya tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Setelah saya mendengar kematian Kian Fong dari Arief hari Minggu yang lalu. Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin mengobrol-ngobrol pamit sebelum ke semeru. Dengan Maria, Rina dan juga ingin membuat acara yang intim dengan Sunarti. Saya kira ini adalah pengaruh atas kematian Kian Fong yang begitu aneh dan begitu cepat.” 

Gie meninggal di gunung Semeru pada 16 Desember 1969, tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 akibat menghirup asap beracun di gunung tersebut. Dia meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis. Selanjutnya catatan selama ke Gunung Semeru lenyap bersamaan dengan meninggalnya Gie di puncak gunung tersebut.

Musibah kematian Gie di puncak Semeru sempat membuat teman-temannya bingung mencari alat transportasi untuk membawa jenazah Gie ke Jakarta. Tiba-tiba sebuah pesawat Antonov milik AURI mendarat di Malang. Pesawat itu sedang berpatroli rutin di Laut Selatan Jawa, Begitu mendengar kabar kematian Gie, Menteri Perhubungan saat itu Frans Seda memerintahkan pesawat berbelok ke Malang. “Saat jenasah masuk ke pesawat, seluruh awak kabin memberi penghormatan militer. Mereka kenal Gie!”, kata Badil (teman Gie yang ikut dalam pendakian tersebut).

Jenazah Gie semula dimakamkan di Menteng Pulo. Namun pada 24 Desember 1969, jenazahnya dipindahkan ke Pekuburan Kober Tanah Abang agar dekat dengan kediaman ibunya. Dua tahun kemudian, kuburannya terkena penggusuran proyek pembangunan prasasti. Keluarga dan teman-temannya, memutuskan menumbuk sisa-sisa tulang belulang Gie.

“Serbuknya kami tebar di antara bunga-bunga Edelweiss di lembah Mandalawangi di Puncak Pangrango. Di tempat itu Gie biasa merenung seperti patung”, kata Rudy Badil (sahabat Gie).


“Pertanyaan pertama yang harus kita jawab adalah: Who am I? Saya telah menjawab bahwa saya adalah seorang intelektual yang tidak mengejar kuasa tapi seorang yang ingin mencanangkan kebenaran. Dan saya bersedia menghadapi ketidak-populeran, karena ada suatu yang lebih besar: kebenaran.”

Soe Hok Gie
( 1942 – 1969 )
Soe Hok Gie

Seorang anak kecil bertubuh dekil
Tertidur berbantal sebelah lengan
Berselimut debu jalanan

Rindang pohon jalan menunggu rela
Kawan setia sehabis bekerja
Siang di seberang sebuah istana
Siang di seberang istana sang raja

Kotak semir mungil dan sama dekil
Benteng rapuh dari lapar memanggil
Gardu dan mata para penjaga
Saksi nyata....... yang sudah terbiasa

Tamu negara tampak terpesona
Mengelus dada gelengkan kepala
Saksikan perbedaaan yang ada
Sombong melangkah istana yang megah

Seakan meludah di atas tubuh yang resah
Ribuan jerit di depan hidungmu

Namun yang ku tau.... tak terasa terganggu

Gema azan ashar sentuh telinga
Buyarkan mimpi si kecil siang tadi

Dia berjalan malas melangkahkan kaki
Diraihnya mimpi digenggam tak diletakkan...
lagi...


Iwan Fals
Siang Seberang Istana


Adalah Robin Lim, seorang perempuan kelahiran Arizona, Amerika Serikat, pada 24 November 1936, yang mendirikan yayasan Bumi Sehat. Sebuah yayasan yang berdiri pada 1994 di Ubud, Bali, tepatnya di  desa Nyuh Kuning. Yayasan ini berfokus pada kesehatan ibu hamil dan bayi. Yang menarik, layanan ini diberikan secara gratis pada para ibu hamil yang kurang mampu.

Perempuan yang akrab disapa Ibu Robin ini, terus memberikan pengabdiannya kepada masyarakat, tidak hanya di Bali, tapi juga di Aceh. Hal inilah yang membuat stasiun televisi terkemuka, CNN, memberinya gelar “CNN Hero 2011”.

Pada satu kesempatan, saya sangat kagum dengan perkataan beliau. Ketika belia ditanya, “Apa motivasi Anda melakukan (pengabdian) ini semua ? “, lalu beliau menjawab, “Saya tidak punya motivasi apapun, saya hanya ingin melakukan yang terbaik untuk dunia ini, dengan cinta”. Hmm, Just Do It...

"Every mother counts and healthcare is a human right." ~ Ibu Robin Lim
Ibu Robin Lim



Supported by Doteasy.com -The Free Web Hosting Provider
Wordpress Theme by Graph Paper Press

Copyright 2010 by Work-a-holic Blogger Template.
Blogger Template by Blogspot Templates