“Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan
prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap
kemunafikan.”
SOE HOK GIE, atau yang akrab disebut GIE, seorang keturunan
China yang lahir pada 17 Desember 1942. Terkenal sebagai seorang aktifis di
tahun 60-an. Dia sering mengkritik pemerintahan pada masanya lewat
tulisan-tulisan yang fenomenal.
Lulus dengan nilai sangat baik, Gie dapat melanjutkan kuliah
di Universitas Indonesia, jurusan Sastra Sejarah. Di masa kuliah inilah Gie
menjadi aktifis kemahasiswaan. Banyak yang meyakini gerakan Gie berpengaruh
besar terhadap tumbangnya Soekarno, dan termasuk orang pertama yang mengritik
tajam rezim Orde Baru.
Gie sangat kecewa dengan sikap teman-teman seangkatannya
yang di era demonstrasi tahun 66 mengritik dan mengutuk para pejabat
pemerintah, namun kemudian selepas mereka lulus, mereka berpihak ke pemerintah dan lupa dengan visi
dan misi perjuangan angkatan 66. Gie memang sosok yang sangat idealis dan kuat
akan pendiriannya.
Sebagai seorang pendiri MAPALA (Mahasiswa Pecinta Alam)
Universitas Indonesia, Gie sangat menyukai pendakian. Bersama Mapala UI Gie
berencana menaklukkan Gunung Semeru yang tingginya 3.676m. Sewaktu Mapala
mencari pendanaan, banyak yang bertanya kenapa naik gunung dan Gie berkata
kepada teman-temannya:
“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan
bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme
tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat
mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah
air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya
dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula
pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”
8 Desember, sebelum Gie berangkat, dia sempat menuliskan
catatannya : “Saya tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Setelah saya
mendengar kematian Kian Fong dari Arief hari Minggu yang lalu. Saya juga punya
perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin mengobrol-ngobrol pamit
sebelum ke semeru. Dengan Maria, Rina dan juga ingin membuat acara yang intim
dengan Sunarti. Saya kira ini adalah pengaruh atas kematian Kian Fong yang
begitu aneh dan begitu cepat.”
Gie meninggal di gunung Semeru pada 16 Desember 1969, tepat
sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 akibat menghirup asap beracun di
gunung tersebut. Dia meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis.
Selanjutnya catatan selama ke Gunung Semeru lenyap bersamaan dengan
meninggalnya Gie di puncak gunung tersebut.
Musibah kematian Gie di puncak Semeru sempat membuat
teman-temannya bingung mencari alat transportasi untuk membawa jenazah Gie ke
Jakarta. Tiba-tiba sebuah pesawat Antonov milik AURI mendarat di Malang.
Pesawat itu sedang berpatroli rutin di Laut Selatan Jawa, Begitu mendengar
kabar kematian Gie, Menteri Perhubungan saat itu Frans Seda memerintahkan
pesawat berbelok ke Malang. “Saat jenasah masuk ke pesawat, seluruh awak kabin
memberi penghormatan militer. Mereka kenal Gie!”, kata Badil (teman Gie yang
ikut dalam pendakian tersebut).
Jenazah Gie semula dimakamkan di Menteng Pulo. Namun pada 24
Desember 1969, jenazahnya dipindahkan ke Pekuburan Kober Tanah Abang agar dekat
dengan kediaman ibunya. Dua tahun kemudian, kuburannya terkena penggusuran
proyek pembangunan prasasti. Keluarga dan teman-temannya, memutuskan menumbuk
sisa-sisa tulang belulang Gie.
“Serbuknya kami tebar di antara bunga-bunga Edelweiss di
lembah Mandalawangi di Puncak Pangrango. Di tempat itu Gie biasa merenung
seperti patung”, kata Rudy Badil (sahabat Gie).
“Pertanyaan pertama yang harus kita jawab adalah: Who am I?
Saya telah menjawab bahwa saya adalah seorang intelektual yang tidak mengejar
kuasa tapi seorang yang ingin mencanangkan kebenaran. Dan saya bersedia
menghadapi ketidak-populeran, karena ada suatu yang lebih besar: kebenaran.”
Soe Hok Gie
( 1942 – 1969 )

No Response to "Soe Hok Gie"
Posting Komentar